Fokus kepada panggilanmu!

image

Mikha 7:3-4

Daud adalah salah satu raja yang paling terkenal di Israel. Pada zaman Daudlah Kerajaan Israel bersatu yg terdiri dari 10 suku Israel Utara dengan 2 suku Israel Selatan – Yehuda dan Benyamin. Daud berhasil memimpin Israel menundukkan banyak negara sekitarnya dan membuat negara-negara kecil lainnya membayar upeti ke kerajaan Israel. Dia menulis banyak lmazmur dan merupakan salah satu pemimpin pujian & penyembahan terbesar dalam Alkitab. Kisah Para Rasul 13:36a bahkan mencatat bahwa Daud adalah pribadi yang melakukan kehendak Allah pada zamannya, seorang yang berkenan di hati Allah. Namun terlepas dari semua itu, Daud gagal total ketika ia kehilangan panggilannya yaitu ketika dia berada di puncak kesuksesannya dimana ia ditundukkan oleh nafsunya sendiri! Daud merebut Batsyeba dari suaminya Uria, yang ironisnya adalah salah satu dari pasukan elit Daud yang setia!

Kesalahan ini tidak hanya terjadi pada Daud; ketika para pemimpin kehilangan tujuan mereka, mereka cenderung mementingkan diri sendiri dan punya motivasi yang salah. Mereka menjadi batu sandungan untuk orang lain karena pengaruh mereka dan status mereka dalam komunitas mereka.

Mikha 7: 3-4 berbicara tentang situasi serupa, pemimpin yang mementingkan diri sendiri dan mencari keinginan mereka sendiri bukannya mengabdi demi kepentingan rakyat yg mereka pimpin. Para pemimpin ini telah menjadi duri di mata Allah dan menyebabkan hukuman Allah jatuh atas Israel. Ketika para pemimpin gagal melaksanakan tanggung jawab, para pengikut juga turut menderita.

Jangan pernah kehilangan panggilan Anda sebagai pemimpin atau jangan memimpin sama sekali. Bila Anda sebagai seorang pemimpin kehilangan panggilan, anda akan mudah terpengaruh oleh keinginan pribadi anda yang egois sampai anda kembali menemukan panggilan anda. Solusi untuk hal ini ditulis oleh Paulus dalam suratnya di Flp 3:13-14 – “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Jangan terfokus pada kejayaan masa lalu melainkan selalu fokus pada panggilan dari Allah!

Advertisements

Is ‘Happily Ever After’ For Real? – Indonesian Version

image

Nahum 3: 18-19

Kita telah mendengar banyak cerita dongeng berakhir dengan “dan mereka hidup bahagia selamanya” terutama dalam cerita dongeng seperti Putih Salju dan Cinderella. Sayangnya, kehidupan nyata bukan dongeng. Tidak ada ‘dan mereka hidup bahagia selamanya’ baik dalam keluarga, bisnis, bahkan dalam lingkup yang lebih besar seperti pemerintahan dan politik. Perlu ada perbaikan secara terus menerus serta terus melakukan koreksi/perubahan yang diperlukan untuk mempersiapkan generasi masa depan mengambil tongkat estafet kepemimpinan bahkan hanya untuk mencapai ‘status quo’ dari generasi sebelumnya. Para pemimpin yang gagal untuk merencanakan, berencana untuk gagal. Kita dapat melihat banyak situasi, bahkan di negara paling maju yang menghadapi penerunan terus menerus seperti kerajaan kuno Babel (sekarang Irak), kerajaan kuno Persia dan Media (sekarang Iran), kerajaan kuno Yunani, kerajaan kuno Mesir dimana jejak kejayaan masa lalu mereka hampir tidak terlihat sekarang.

Dalam Nahum 3: 18-19, kita belajar mengapa bangsa seperti Niniwe gagal di hadapan Allah. Mantan raja Asyur yang bertobat pada zaman nabi Yunus gagal untuk mereproduksi pemimpin lain yang bisa menggembalakan umatnya dan melestarikan standar moral yang telah ditetapkan oleh dia setelah mereka mengalami pertobatan massal (pada zaman nabi Yunus). Akibatnya adalah rakyatnya tercerai-berai seperti domba tanpa gembala.

Kemampuan kita untuk mempengaruhi dibatasi oleh kemampuan kita untuk memimpin dan menciptakan pemimpin lainnya. Kita dapat melayani hanya sejumlah orang dalam sejumlah waktu yang terbatas. Oleh karena itu pemimpin besar tidak menghabiskan tetapi menginvestasikan waktu mereka dengan pemimpin lainnya. Kita bisa melihat hal ini selama pelayanan Yesus di bumi. Yesus tidak datang ke bumi dan hanya melakukan KKR Mujizat di kota demi kota. Dia tidak hanya pergi mengelilingi tanah Yudea untuk memberikan khotbah demi khotbah. Yesus fokus pada pengembangan pemimpin. Kisah Para Rasul mencatat ada 120 pemimpin yang dipersiapkan Yesus (untuk melanjutkan pelayanannya di bumi) yang menunggu pencurahan Roh Kudus. Di antara 120 pemimpin ini, ada 12 rasul yang menyebarkan Injil ke ujung bumi dan memutarbalikan dunia dengan Injil Kerajaan Allah. Yesus menghabiskan 3 tahun dalam pelayanan-Nya dan efek dari pelayanan-Nya masih terasa sampai sekarang, 2000 tahun setelah Ia meninggal. Itulah mengapa Yesus dijuluki Raja Segala Raja, Allah Yang Perkasa.

Mari terus memperbaiki kemampuan kepemimpinan kita terus menerus dan membangun pemimpin lainnya untuk meneruskan warisan kita di bumi. Setelah kita meninggal, yang terpenting bukanlah seberapa banyak harta atau kesuksesan yang kita raih, tapi apakah kita meninggalkan warisan terutama warisan yg membawa kemuliaan bagi Kerajaan Sorga. Belajar memimpin seperti Yesus memimpin!

Segala kemuliaan hanya bagi Raja Segala Raja, Tuhan Yesus Kristus!

Shut Up and Listen – Indonesian Version

image

Hab 1

Florence Littauer, penulis buku laris – Personality Plus, membahas tentang jenis kepribadian manusia dalam bukunya: Koleris (dominan), Melankolis (jeli), Sanguin (Intim) dan Phlegmatis (Stabil). Dari empat tipe kepribadian ini, pemarah dan Sanguin dianggap ekstrovert sementara Melankolis dan Phlegmatis introvert. Ada keuntungan dan kerugian dari setiap tipe kepribadian dan masing-masing tipe kepribadian dapat tumbuh dan menjadi pemimpin besar. Sementara ekstrovert memiliki keuntungan menjadi vokal dan mampu mengekspresikan dan mengkomunikasikan ide-ide dan keyakinan mereka, kadang-kadang mereka gagal di bidang mendengarkan.

Dalam kitabnya, Habakuk menulis mengenai pentingnya pemimpin untuk menjadi pendengar yang baik. Pada 4 ayat pertama bukunya, Habakuk berseru kepada Allah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Dia meminta Tuhan untuk menanggapi ketidakadilan, kekerasan dan penyimpangan dari bangsanya, Yehuda. Ketika akhirnya Allah menanggapi, Dia memberikan jawaban kurang menyenangkan bagi Habakuk, Allah akan menggunakan Babel, bangsa yang lebih bebal dari Yehuda untuk menghukum bangsa ini dan untuk memulihkan ketidakadilan di antara orang Yahudi. Meskipun hal ini tidak masuk akal untuk Habakuk, ia terus mendengarkan Allah dan akhirnya memahami bahwa para pemimpin mendapatkan hak mereka untuk berbicara dengan mendengarkan. Habakuk akhirnya mengerti alasan mengapa Tuhan melakukan apa yang akan Dia lakukan.

Kita sebagai seorang pemimpin harus belajar untuk mendengarkan sebelum kita berbicara sehingga kita bisa mendapatkan hak kita untuk didengar orang lain. Pemimpin yang menolak untuk mendengarkan seiring berjalannya waktu akhirnya akan kehilangan pengaruh mereka di antara para pengikut mereka. Dengan mendengarkan, pemimpin memperoleh jauh lebih banyak dari haknya untuk berbicara
1. Mereka mendapatkan wawasan tentang orang-orang
2. Mereka terhubung dengan orang yg berbicara
3. Mereka mendapatkan hak mereka untuk berbicara
4. Mereka menjadi relevan
5. Mereka memahami kunci untuk menyentuh hati pembicara
6. Mereka mengidentifikasi diri mereka dengan pembicara
7. Mereka mendapatkan otoritas
8. Mereka belajar.

Tuhan memberi setiap orang dari kita satu mulut dan dua telinga secara sengaja, Dia ingin kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ingat: Ketika Anda berbicara, apa pun yang Anda katakan tidak akan mengajarkan Anda apa-apa. Hanya ketika Anda mendengarkan – kepada Allah dan kepada orang lain – anda akan mendapatkan pemahaman

Terpujilah nama Tuhan Yesus Kristus, Amin!

Shut Up and Listen!

image

Hab 1

Florence Littauer, author of bestselling book – Personality Plus, discussed about types of personality of human in her book: Choleric (Dominant), Melancholy (Observant), Sanguine (Intimate) and Phlegmatic (Stable). Out of these four personality types, Choleric and Sanguine are considered to be extrovert while Melancholy and Phlegmatic are introvert. There are merits and demerits of every personality types and each personality type can grow and become great leader. While the extrovert has the advantages of being outspoken and able to express and communicate their ideas and beliefs, sometimes they fail in the area of listening.

Habakkuk wrote in his book the importance of leaders to be good listeners. In the first 4 verses of his book, the prophet cries out for God to answer his questions. He begs God to respond to the injustice, the violence and the perversion of his nation, Judah. When God finally respond, He give a distateful answer to Habakkuk, He will use Babylonians, a nation more unjust than Judah to punish her and to correct injustice among Jews. Although this doesn’t make sense to Habakkuk, he continued to listen to God and finally understand that leaders earn their right to speak by listening. Habakkuk finally understand the reason why God did what He was going to do.

We as a leader, need to learn to listen before we speak, so that we can earn our right to be heard. Leaders who refuse to listen will over time lose their influence among their followers. By listening, leaders gain so much more than privilege to speak
1. They gain insight about people
2. They connect with the speaker
3. They earn their right to speak
4. They become relevant
5. They understand the key to speaker’s heart
6. They identify
7. They gain authority
8. They learn.

God gave every one of us one mouth and two ears not by accident, He wants us to listen more than to speak. Remember: When you speak, nothing you say will teach you anything. Only when you listen – to God and to others – will you gain understanding.

Blessed be the name of the Lord Jesus Christ.

Is happily ever after for real?

image

Nahum 3:18-19

We have heard many fairy tales ended with “and they live happily ever after” especially in bedtime stories such as Snow White and Cinderella. Unfortunately, real life is not fairytale. There is no such thing as ‘happily ever after’ either in family, business, even in bigger scope such as government and politic. There need to be ongoing improvement, correction/changes required as well as grooming future generation to take on the baton to even just achieve the status quo. Those leaders who fail to plan, they fail to plan. We’ve seen many situation in even most advanced countries who faced degradation after degradation such as ancient kingdom of Babel (now Iraq), ancient kingdom of Persia and Media (now Iran), ancient kingdom of Greece, ancient kingdom of Egypt whereby hardly any trace of their past glories are hardly noticeable now.

In Nahum 3:18-19, we learn why nation such as Niniveh fails before God. The former king of Assyria who repented during prophet Jonah’s fails to reproduce other leaders who can shepherd his people and preserve the moral standard that has been set by him during the time of repentance. Thus the people of Assyria were scattered like sheep without a shepherd.

Our abilities to influence is limited by our abilities to lead and reproduce other leaders. We can minister certain limited amount of people with limited amount of time. Therefore great leaders don’t spend but invest their time in other leaders. We can see this in action especially during Jesus ministry on earth. Jesus didn’t come to earth and just perform miracle ministry city after city. He didn’t just go around land of Judea to preach sermon after sermon. Jesus also focused on raising up leaders. Book of Acts recorded there were 120 leaders whom Jesus groomed (to continue his ministry on earth) waiting for the outpouring of Holy Spirit. Among these 120 leaders, there were 12 apostles who spread the gospels to the end of the earth and turned the world upside down with Gospel of Kingdom of God. Jesus spend 3 years in His ministry and His influence is still felt until now 2000 years aftee His death. That’s why Jesus is called King of Kings, the Mighty One!

Let us improve our leadership abilities time and time again and build others to continue our legacy here on earth. After we pass away, it doesn’t matter how much wealth or succes we acquired but ehat matters is do we leave any legacies especially those who bring glory to the Kingdom of God. Learn to lead as Jesus lead.

Glory to the King of Kings and Lord of Lords, Jesus Christ.

Stay Focused On Your Calling

image

Micah 7

David is one of the famous if not the most famous king in Israel. In his time both the 10 Northern tribes of Israel was united with Judah and Benjamin and become complete kingdom of Israel. He successfully subdued many surrounding nations and made other smaller nations tributary to the kingdom of Israel. He wrote many psalms and is one of greatest worship leader in the bible. Acts 13:36 even recorded that David served his own generation by the will of God, he was a man after God’s own heart. Yet despite all that, David failed miserably when he lost his cause, when he was in the state of over-the-top, he was subdued by his own lust! David stole Bathsheba from his husband Uriah, who ironically was one of David’s top and most loyal soldiers! This mistake is not unique to David alone, when leaders lost their cause, they become self-serving and wrongly motivated. They become a big stumbling block to others due to their influences and high standing in their communities.

Micah 7:3-4 has spoken about the similiar situation, leaders who become self-serving and seeking their own desires compared to the interest of the people they served. These leaders have become briers and thorns in the eyes of God and caused the judgment of God fell upon Israel. When leaders fail to perform on their duties, their followers suffer as well.

Never lose your cause as a leader or don’t lead at all. When you as a leader lose your cause, you are easily distracted by you own selfish desire and make stupid mistakes repeatedly until you found a worthy cause again. The only solution to this is given by Paul in Philippians 3:13‭-‬14: “Brethren, I count not myself to have apprehended: but this one thing I do, forgetting those things which are behind, and reaching forth unto those things which are before,  I press toward the mark for the prize of the high calling of God in Christ Jesus.” Don’t be focused on our past glories but instead always focus on our calling of God in Christ Jesus. Godly leaders never retire but they re-fire!

Blessed be the name of our Lord Jesus Christ, Amen!